Untukmu, Pemilik Hati yang Terluka. Mari Berdamai dengan Diri Sendiri — Tiara Tia

Untukmu, Pemilik Hati yang Terluka. Mari Berdamai dengan Diri Sendiri

hati yang terluka berdamai dengan diri sendiri


Untukmu, pemilik hati yang terluka, berdamai dengan diri sendiri

Beberapa bulan ini adalah bulan-bulan terberat. Ada banyak kejadian membuat hatiku patah, terserak, terseok-seok menambalnya, dan patah kembali. Begitu berulang-ulang. Hal-hal remeh yang sebelumnya bukan apa-apa, buatku lelah. Dan akhirnya aku kehilangan.

Lagi, untuk yang kesekian kalinya. berdamai dengan diri sendiri

Kali ini bukan hanya hatiku yang terluka, seluruh jiwaku luluh lantak. Aku hancur, tak punya apa-apa lagi.

Dia yang paginya sudah mulai membaik, tiba-tiba harus kulihat di seluruh tubuhnya penuh dengan selang-selang. Kemudian tanpa aba-aba, ia pergi.

Dia, yang selalu percaya aku bisa menjadi apapun yang kumau, telah tiada. Untuk selama-lamanya.

Dia support system terbesarku, penyemangat hidupku nomor satu.

Dia, ayahku yang paling kucinta di dunia. berdamai dengan diri sendiri

Selama beberapa waktu, aku merasa tak bisa lagi bertopang pada kakiku sendiri. Aku lemah. Semua terasa hampa. Untungnya, bernapas sudah menjadi kebutuhan hidup manusia. Karena bila tidak, mungkin aku lupa bagaimana caranya.

Saat kukira aku sudah kebal dengan segala bentuk kehilangan, ternyata aku salah. Perlukah aku tegaskan bahwa aku juga pemilik hati yang terluka itu?

Sejujurnya hingga lewat 40 hari pun, aku masih belum percaya. Aku merasakan Ayah masih ada, satu-satunya yang mengomel saat dini hari aku masih berkeliaran di ruang keluarga dan tak sedikit pun terlelap. Aku merasa ia masih duduk di kursinya yang biasa, dengan senyumnya yang sama setelah melewati hari panjang yang melelahkan.

Bahkan saat menulis ini pun, lagi-lagi titik demi titik air tercipta di sudut mata.

Aku, pemilik hati yang terluka. Selama beberapa waktu, tak bisa apa-apa.

Untungnya setelah jeda itu, aku memutuskan untuk berdamai dengan diri sendiri. Karena perjalanan hidupku masih panjang. Masih banyak yang harus aku perjuangkan, terutama setelah kepergiannya.

Berdamai dengan diri sendiri bukanlah perkara mudah. Tapi setidaknya aku berani mencoba. Bahwa tidak apa-apa merasakan sakit, itu normal.

It's okay to be not okay.

Ini untukmu, hai hati yang terluka. Ini untuk kita.

Tarik napas dalam-dalam. Raup udara sebanyak mungkin hingga dadamu kaku. Lalu hembuskan semuanya, hingga tak ada lagi yang tersisa.

Bila kamu tidak bisa juga, tidak apa-apa. Sakit yang kamu rasakan, napas pendek yang kamu hembuskan itu. Tidak apa-apa, tidak ada yang akan menyalahkanmu.

Bila kamu harus belajar berjalan kembali dengan kedua kaki, tak apa-apa. Masih ada banyak waktu untukmu.

Give youself time to heal.

Tidak apa-apa bila kamu merasa tiada yang bisa mengerti perasaanmu saat ini. Tak apa-apa bila kamu merasa sedih, kamu merasa terluka.

Sudah kodratnya manusia merasakan sakit, sedih, marah, terluka.

Pelan-pelan, lepaskan semua. Lepaskan hal-hal yang membuatmu sedih. Jangan biarkan perasaanmu berlarut hingga bertahun-tahun kemudian. Pelan-pelan, tak ada yang memaksamu untuk secepat kilat memaafkan.

Pelan-pelan, maafkan dirimu. Karena kita sama-sama tahu, berdamai dengan dirimu sendiri itu tidaklah mudah.

It takes time, bahkan mungkin kita butuh waktu yang belum bisa ditentukan.

Ceritalah pada orang-orang terdekatmu. Atau bila tak ada yang bisa dipercaya, ceritakan pada Allah. Pada Tuhan semesta alam. Ceritakan semua hal, karena Allah paling tahu apa yang terbaik untukmu.

Kamu tidak sendirian. Bahkan bila kamu tak lagi punya apa-apa, akan ada orang-orang di sekitarmu. Ada Allah yang akan selalu menjaga.

Yakin dan percayalah, semua akan baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja.

Di penghujung hari nanti, kita akan baik-baik saja.

Hati yang terluka, berdamai dengan diri sendiri

Hati yang terluka, berdamai dengan diri sendiri

With love,

Tia



Komentar

back to top