Gengsi Dong, Pakai Barang Murahan. Gimana Mau Kelihatan Kaya Raya? — Tiara Tia

Gengsi Dong, Pakai Barang Murahan. Gimana Mau Kelihatan Kaya Raya?

Satu hal yang banyak kita temui adalah perbedaan perlakuan antara si kaya dan tak punya. Bagaimana mendeteksi keduanya? Tentunya dari penampilan. Tas branded, pakaian bermerek, ponsel canggih, kendaraan edisi terbaru, aksesoris mahal, serta makan di cafe mewah adalah ciri khas si kaya raya. Gengsi dong, pakai barang murahan.

Maka orang yang terlihat biasa-biasa saja, secara otomatis akan dicap kurang berada. Atau frankly speaking: miskin.


gengsi dong miskin harus kaya raya


Okay, sebelum berlanjut aku akan sedikit bercerita. PS: kalau ada curhatan terdeteksi, tolong dimaklumi. Aku akan berusaha agar postingan kali ini tidak merembet ke mana-mana dan tetap sesuai jalur.



Gengsi Dong, Kalau Nggak Kelihatan Kaya Raya



Beberapa waktu lalu, aku bertemu kembali dengan seorang teman yang hanya bisa bertegur sapa lewat dunia maya sekian lama. Seperti biasa, highlight pertemuan kami adalah ngobrol-ngobrol dong. Tentang teman-teman, kehidupan, pekerjaan, blablabla.

Satu hal yang menarik perhatianku adalah tas si teman. Katanya, tas tersebut dibeli dengan harga Rp 2.500.000. Dua juta lima ratus ribu rela ia keluarkan, hanya karena tas mahal sebelumnya rusak. FYI, tas sebelumnya itu mahal namun berkualitas abal-abal. Bukan merek yang biasa kita kenal dengan kualitas terpercaya. Maka atas nama fashion dan ketenangan batin, ia pun membeli tas baru kembali.

Kali ini, entahlah apa ia akan terjerumus dalam lubang yang sama, atau tidak. Gengsi dong, menggunakan barang murahan.

"Sekarang uangku habis dong gara-gara beli tas ini. Tabungan juga udah sekarat, nih."

Monmaap, aku mau numpang ketawa. Soalnya lucu sih. WKWKWKWK




Lingkaran Setan Perilaku Mengedepankan Gengsi Dong Kaya Raya


Ada yang selalu mengupayakan agar selalu tampak hidup berada, selalu update status sedang have fun. Di lain pihak orang tuanya terpaksa berjualan sayur di pasar demi menyambung hidup. Jangan salah, ada banyak kasus seperti ini.

Aku juga tahu, bahwa ada orang-orang yang bekerja dengan gaji hanya Rp 300.000 sebulannya, namun rela membeli pakaian, tas, dan barang lain dengan harga jauh di atas gajinya tersebut. Caranya bagaimana, sih? Dengan kredit tentunya. Perilaku 'gengsi dong' tadi menjeratnya dalam lingkaran setan tak berkesudahan.

Bagaimana dengan tabungan darurat? Bagaimana dengan rencana hidup ke depannya?

Well, I know, I know, it's complicated. Hidup akan selalu memberikanmu kejutan-kejutan, entah itu sesuai keinginan kita atau mungkin tidak. Tapi menghabiskan uang dua setengah juta rupiah hanya untuk membeli gengsi ini tidak masuk akal, ma friend. Setidaknya untukku.


gengsi dong miskin harus kaya raya
Do we really need to mengedepankan gengsi?


Rezeki itu sudah ditetapkan Allah sejak kita bahkan belum lahir, aku tahu. Separah-parahnya kita tidak punya uang hari ini, bisa jadi besok kita bergelimang harta. Atau bila kita punya kekayaan tak terhingga, mungkin besok semua sirna. Bahwa rezeki ada di tangan Tuhan. Karena maut, rezeki, dan ajal itu sudah suratan.

Okelah, kita tidak perlu takut dengan hidup kita esok hari. Ada Allah sebaik-baiknya penjaga. Ada Allah sang pemberi rezeki. Tapi bukannya rezeki akan datang bila kita terus berusaha mendapatkannya?



Wajibkah Perilaku Mengedepankan Gengsi? Gengsi Dong Kaya Raya


Pertanyaannya, apakah perilaku mengedepankan gengsi ini termasuk dalam usaha menjemput rezeki? Menjadi konsumtif dengan barang-barang yang tak kita butuhkan, apakah menjadi hal wajib? Sesungguhnya hidup tidak sebercanda itu, teman.

Apa gaya hidupmu saat ini benar-benar kamu butuhkan? Apa gaya hidup kelas atasmu ini bisa dipenuhi dengan penghasilanmu?

Ah, nggak habis pikir akutu. Mungkin karena freelancer satu ini sudah lupa bagaimana rasanya kerja kantoran dan hiruk-pukuknya sehingga bisa nulis begini *at least I'm happy with my job right now.

Postingan kali ini, receh banget yak? Iya, tapi aku rindu bisa ngereceh seperti ini, bisa nulis panjang lebar slash curhat di blog. Karena terkadang pemikiranku jauh berbeda dengan orang lain. Semoga nggak bosan baca tulisan di tiga blog-ku ya.. ^^

Gengsi dong, ngaku sebagai seorang blogger tapi blognya udah jarang diisi lagi *uhuk, ngomongin diri sendiri ini mah.


Si bukan siapa-siapa,




Tia


Komentar

back to top